dua titik terakhir di puisiku tercantum sebuah nama yang mungkin tak pernah lagi aku dengar setelah itu. nama yang membuat semangat ini berkobar dan dingin seperti malaikat. nama yang selalu menitik beratkan keadaan demi dia. seakan segalanya bisa hanya untuk dia. tiga detik aku bisa lakikan segalanya dan karena dia seumur hidup aku tak mampu membaca kepedihan ini. apa ini sebuah penantian atau sebuah proses kematian . aku rasa itu terlalu mewah untukku . adakah kesedihan yang lebih hina dari kepedihan aku saat mengenangmu.
yang terlantun seperti udara yang membeku dan air yang berhembus dan sampai kini kamu selelu menjadi tanda koma di setiap hariku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar